Diskominfotik Bengkalis Gelar Sosialisasi di SDN 46, Wujud Dukung KLA Formadiksi KIP-K Polbeng Gelar Upgrading Kepengurusan 2026 Dugaan SPPD Fiktif di Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Pesisir Selatan UKM Jurnalistik Polbeng Ikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar di UNRI Bupati Kasmarni Tekankan Semangat Gotong Royong saat Membuka TMMD ke-128 di Pinggir Pemkab Bengkalis Optimis Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Pangan Aman 2026, Capai Standar Target

Berita

Video Jokowi Bicara Soal Stunting Disorot Netizen

badge-check


					Presiden Joko Widodo. (Foto: tangkapan layar video Twitter/@BakulJamu_79) Perbesar

Presiden Joko Widodo. (Foto: tangkapan layar video Twitter/@BakulJamu_79)

Beritapojok.com – Video pidato Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bicara soal stunting disorot netizen.

Dalam video unggahan di media sosial Twitter itu, tampak Presiden Jokowi sedang berbicara di hadapan para guru.

“Bapak ibu guru harus melihat anak didiknya yang stunting itu ada atau tidak,” ujar Jokowi dalam video tersebut.

Video Jokowi bicara soal stunting yang diunggah akun @BakulJamu_79 itu dilengkapi dengan caption defenisi dari Stunting.

Pada caption dalam video itu, tertulis Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Selanjutnya, kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Dalam tweetnya, selain video Jokowi bicara soal stunting, akun @BakulJamu_79 juga menulis bahwa jika ia yang bloon (bodoh, red), maka hal itu adalah wajar, namun bagaimana dengan Presiden?.

“Klo gw bloon mah wajar,. Klo presiden yg bloon..??,” tulis akun @BakulJamu_79.

Video tersebut hingga kini sudah ditonton sebanyak 27 ribuan, dilengkapi dengan tanda pagar (tagar) Tuntut Jokowi Mundur.

https://twitter.com/BakulJamu_79/status/1599535727448322050?t=Hwet-Lb6YbzrFxwO1YKupA&s=19

Salah seorang warganet lainnya, mengomentari kewajaran angka stunting di Indonesia merupakan yang tertinggi.

Dalam komentarnya, terdapat penggalan tulisan I Dont Read What I Sign yang dulu sempat viral di manca negara.

Sementara itu, akun @kencana12345 dalam komentarnya justru tampak menertawai tweet tersebut.

“Jadi bloon kok bangga ahahahah,” tulisnya.

Dikutip dari kemkes.go.id, defenisi Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

“Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih”, tutur Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, di Jakarta (7/4).

Diterangkan Menkes Nila Moeloek, kesehatan berada di hilir. Seringkali masalah-masalah non kesehatan menjadi akar dari masalah stunting, baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan.

Karena itu, ditegaskan oleh Menkes, kesehatan membutuhkan peran semua sektor dan tatanan masyarakat.

1) Pola Makan

Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.

Istilah “Isi Piringku” dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.

Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

2) Pola Asuh

Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.

Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.

Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.

3) Sanitasi dan Akses Air Bersih Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

“Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka, dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya”, tutupnya.

Sekilas Mengenai Stunting

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia,
juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak
stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh
pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah,
produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif. *

Baca Lainnya

Diskominfotik Bengkalis Gelar Sosialisasi di SDN 46, Wujud Dukung KLA

24 April 2026 - 17:01 WIB

Formadiksi KIP-K Polbeng Gelar Upgrading Kepengurusan 2026

23 April 2026 - 16:56 WIB

Dugaan SPPD Fiktif di Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Pesisir Selatan

23 April 2026 - 16:17 WIB

UKM Jurnalistik Polbeng Ikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar di UNRI

23 April 2026 - 10:55 WIB

Bupati Kasmarni Tekankan Semangat Gotong Royong saat Membuka TMMD ke-128 di Pinggir

23 April 2026 - 04:54 WIB

Trending di Bengkalis