Beritapojok.com- Batal terbang ke Bandara Ngloram, Jawa Tengah usai Kades Blora buka pintu darurat pesawat.
Aksi tersebut terekam dan videonya kini tersebar di media sosial. Dalam video itu di ketahui seorang kades Nglebak, Kecamatan Kradenan, Blora, bernama Sudarto terlihat membuka pintu darurat pesawat.
“Tidak sampai membuka, hanya anjlok sedikit. Andai saja saya tidak di pindah tempat duduk, mungkin tidak sampai ada kejadian itu,” ujar Kades Sudarto, Selasa (21/12) di kutip dari Merdeka.
Di kutip dari liputan6.com, Sudarto mengaku tak tahu jika pesawat yang ia naiki akhirnya batal terbang.
Termasuk juga tentang nasib rombongan penumpang pesawat yang berisi para Kepala Desa (Kades) dari Kecamatan Kradenan, Tunjungan dan Kunduran yang akhirnya beralih moda transportasi untuk pulang ke Blora.
Ia lantas meminta maaf lantaran telah membuka pintu darurat pesawat Citilink. Ia juga bersedia bertanggungjawab untuk mengganti biaya perjalanan rombongan yang harus beralih moda transportasi karena penerbangannya batal.
“Saya meminta maaf kepada teman-teman kepala desa yang akhirnya terganggu perjalanan pulangnya. Saya siap mengganti biaya perjalanan pulang yang di keluarkan secara pribadi oleh kawan-kawan kades. Ini murni kesadaran dari saya,” ujarnya.
Kades Blora Mengaku Tidak Tahu
Sudarto mengungkapkan, setelah kejadian tersebut, ia di bawa oleh pihak otoritas bandara untuk di interogasi. Ia juga telah membuat surat pernyataan berisi kelalaian penumpang.
Akan tetapi, Kades Blora menyanggah dan mengaku tak sengaja buka pintu darurat pesawat hingga batal terbang.
“Setelah di tanya-tanya, di interogasi kurang lebih satu jam lamanya. Dari pihak maskapai hanya di beri sanksi tiket pesawat menuju Blora hangus. Saya juga di tawari mau pulang ke Blora naik apa? Saya jawab naik bus saja lah. Oleh pihak bandara, saya di hubungkan oleh ojek online untuk di antar ke terminal,” ujarnya di kutip dari liputan6.com.
Pesawat Batal Terbang
Sudarto mengaku tak mengetahui jika ternyata pesawat Citilink yang sempat ia naiki akhirnya batal terbang. Hal tersebut membuat rombongan penumpang pesawat yang berisi para Kepala Desa (Kades) Kecamatan Kradenan, Tunjungan dan Kunduran harus beralih moda transportasi untuk pulang ke Blora.
“Saya sendiri naik bus pulang ke Blora. Yang interogasi saya juga tidak ngomong ke saya kalau para penumpang lainnya tidak bisa terbang. Saya kaget, di atas bus saya menghubungi ketua praja kepada desa di 3 kecamatan untuk meminta maaf,” ujarnya. *






