Beritapojok.com- Beberapa hal yang mengejutkan dari fakta banjir di Palembang, Sumsel selain hujan lebat pada 25 Desember 2021 dini hari.
Banjir tersebut terjadi di 5 kecamatan. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel, curah hujan yang mengguyur Palembang adalah tertinggi sejak 3 dekade terakhir.
Dua Korban Banjir di Palembang
Fakta Banjir di Palembang yang mengejutkan adalah adanya dua korban. Dua korban tersebut, yakni dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah, Azili (53), dan seorang wanita.
Azili diduga tewas usai tersengat listrik saat kediamannya, di Kecamatan Sukarami, Palembang, terendam banjir. Peristiwa tewasnya Azili telah mendapat konfirmasi Camat Sukarami Palembang, M Fadly.
Pihak UIN Radeh Fatah juga membenarkan. Informasi dari pihak universitas, Azili merupakan salah seorang dosen Fakultas Syariah dan Hukum.
“Kabar duka itu benar, Pak Azili memang dosen kita, dia dosen senior, dia dosen PNS di Fakultas Syariah dan Hukum,” ucap Humas UIN Raden Fatah, Elis, di kutip dari DetikCom, Sabtu (25/12).
Satu korban lainnya pertama kali dilaporkan hilang tersapu banjir. Korban ditemukan dalam keadaan tewas pada hari di mana hujan lebat mengguyur Palembang, pukul 14.09 WIB.
Ketinggian banjir di 5 kecamatan di Palembang bervariasi. Ketinggian air ada yang mencapai 1 meter.
Curah Hujan Tinggi
“Menurut laporan BPBD Kota Palembang, banjir di wilayahnya terjadi setelah hujan lebat mengguyur beberapa kecamatan. Hujan dengan intensitas tinggi ini menyebabkan debit air anak Sungai Musi meluap,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya di kutip dari DetikCom, Minggu (26/12/2021).
Luapan air anak Sungai Musi itu semakin tidak terbendung akibat satu faktor. Apa itu? Faktor dimaksud ialah saluran air atau drainase di Kota Palembang, khususnya di 5 kecamatan yang dilanda banjir.
“Kondisi tersebut diperburuk oleh faktor drainase kota yang kurang optimal,” ungkap Abdul Muhari.
Baru kemudian masuk ke fakta mengejutkan. Merujuk catatan BMKG Sumsel, curah hujan pemicu banjir di 5 kecamatan di Palembang adalah yang tertinggi sejak 31 tahun terakhir.
“Curah hujan tercatat pada Staklim Palembang sebesar 159,7 mm. Ini adalah rekor tertinggi curah hujan pada bulan Desember sejak 31 tahun terakhir,” terang Koordinator Bagian Observasi dan Informasi BMKG Sumsel, Sinta Andayani, kepada detikcom, Minggu (26/12).
BMKG Sumsel juga memiliki catatan tingkat curah hujan dari Januari sampai Desember dalam 31 tahun terakhir. Menurut BMKG, curah hujan yang mengguyur Palembang dua hari lalu adalah yang tertinggi ketiga jika dibandingkan dari Januari hingga Desember sejak 31 tahun terakhir.
“Adapun dalam catatan klimatologis sepanjang bulan, curah hujan tersebut berada pada ranking ketiga dalam semua catatan hujan Januari hingga Desember dalam 31 tahun tersebut,” jelas Sinta.
BMKG memprediksi puncak musim hujan di Indonesia akan terjadi beberapa bulan pada awal 2022 mendatang. Pemerintah dan masyarakat di seluruh penjuru Tanah Air diimbau untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
“Potensi hujan itu masih tetap ada. Jadi tetap harus diwaspadai, kita biasa Januari-Maret itu puncak musim hujan, jadi harus diwaspadai,” beber Sinta.
BMKG Sumsel mengaku sudah mensosialisasikan soal potensi curah hujan tinggi tersebut. BMKG Sumsel memastikan akan selalu menyampaikan informasi kewaspadaan setiap pergantian musim.
“Potensi cuaca hujan lebat seperti ini masih bisa terjadi. Masyarakat harus bersiap-siap sepanjang musim hujan, dan 22 Oktober lalu sudah kita sampaikan,” imbuhnya.
“Memang cuaca di Indonesia pada umumnya begitu, curah hujan cukup tinggi, dan BMKG selalu menyampaikan informasi kewaspadaan saat musim kemarau, pancaroba dan hujan,” sambungnya.
Begitu juga terkait hujan lebat di Palembang, Sabtu (25/12) dini hari. BMKG Sumsel mengklaim telah mensosialisasikan peringatan dini kepada pemerintah daerah setempat, menggunakan berbagai sarana komunikasi.
“Kita sudah roadshow Lamina itu masih aktif dan kita khawatirkan menambah parah di musim hujan. Kita sudah koordinasi lewat medsos, BPBD setempat, termasuk media dan peringatan dini sudah kita sampaikan,” tutur Sinta. *








